Ad Code

BERDEBAT DENGAN INDAH BAGIAN 1 : Menemukan Esensi Debat dan Mengotruksikan Bagian - Bagian dalam Debat

A. Menemukan Esensi Debat

B. Mengotruksikan Bagian - Bagian dalam Debat

A. MENEMUKAN ESENSI DEBAT

Pernahkah kalian menyaksikan debat baik secara langsung maupun tidak langsung atau melihat dua pihak saling bertukar pendapat dengan  mengemukakan berbagai alasan, meskipun keduanya berada pada sudut pandang yang berbeda. Kegiatan yang dilakukan kedua orang disebut debat. Maka dari pernyataan di atas esensi debat dapat diartikan mempertemukan dua pendapat berbeda untuk menguji validitas (logika berpikir) dan rasionalitas (berpikir secara logika) masing-masing gagasan.

1.    Merumuskan Esensi Debat

Cara merumuskan esensi debat kalian harus terlebih dahulu menyimak video atau teks yang dibacakan. Berikut yang kalian harus ketahui dalam merumuskan esensi debat.

Pro/Afirmasi adalah sebuah pihak yang menyetujui sebuah debat. Salah satu contohnya tentang Bahasa Inggris sebagai Alat yang penting di Era Globalisasi: "Jika kita berbicara bahasa Inggris, tentu saja orang-orang akan memerhatikan. Kita akan dipandang sebagai orang yang cerdas karena sama dengan orang asing".

Kontra/ Oposisi adalah sebuah pihak yang tidak menyetujui sebuse debat. Salah satu contohnya: "Saya sangat tidak setuju dengan pendapat Bahasa Inggris sebagai bahasa atau alat yang penting di Indonesia. Anda mengatakan negara termaju menggunakan bahasa Inggris dalam berbicara".

2.    Mengidentifikasi Unsur-unsur Debat

Debat dapat terwujud apabila unsur-unsurnya terpenuhi. Berikut merupakan unsur-unsur debat.

a)    Mosi adalah topik yang diperkenankan.

b)    Tim Afirmasi adalah pihak yang menyetujui.

c)    Tim Oposisi adalah pihak yang tidak menyetujui.

d)    Tim Netral adalah pihak yang memberikan argumen dua sisi, baik dukungan maupun sangga han.

e)    Penonton/Juri yang dipanggil.

f)     Moderator adalah orang yang memandu jalannya debat.

g)  Penulis/notulis adalah orang yang mencatatat jalannya debat atau mencatat sejumlah pertanyaan yang dilontarkan oleh pihak lawan debat.

3.    Merumuskan Tata Cara Debat 

Untuk merumuskan tata cara debat, kita dapat mempelajari tata tertib dalam sebuah debat.

a)    Perkenalan, setiap tim memperkenalkan diri selama 1menit.

b)    Penyampaian Pernyataan Topik, setiap tim menyampaikan argumentasinya selama 5 menit. Dimulai oleh tim pendukung dilanjut oleh tim penyanggah, lalu tim netral.

c)    Debat 9 menit pertama.

d)    Simpulan,setiap tim memberikan ungkapan penutup terhadap pernyataan topik sesuai dengan posisi ya,selama 1 menit.

B.   MENGONSTRUKSI BAGIAN-BAGIAN DALAM BERDEBAT 

1.    Merumuskan Mosi Berdasarkan Isu atau Permasalahan yang sedang Berkembang

Mosi dalam debat sama dengan topik dalam sebuah teks. Mosi menjadi dasar bagi pihak-pihak yang terlibat debat untuk menentukan sikap apakah mendukung atau menolak mosi. Berdasarkan mosi, semua pihak dapat menyiapkan argumen untuk mendukung pendapatnya tentang mosi. Pada saat membuka debat, moderator bisa menyampaikan mosi yang didebatkan.

2.    Menyusun Pendapat Disertai Argumen Baik untuk Mendukung Maupun Menolak Mosi

Sebelum mempertahankan pendapat tentang suatu isu atau permasalahan, hal pertama yang harus dimiliki seseorang adalah memahami isu atau permasalahan dengan baik. Untuk itu, ihak-pihak yang akan melakukan debat harus banyak mencari informasi dari berbagai sumber Misalnya, dengan membaca berita, menyimak berita dari radio dan televisi, atau menggali informasi dari narasumber yang memahami isu atau permasalahan dengan baik.

3.    Menyimpulkan Hasil Debat

Tahapan terakhir yang harus dilakukan oleh pihak yang berdebat, baik tim afirmasi maupun tim oposisi adalah menyampaikan simpulan. Simpulan tersebut dirumuskan berdasarkan pendapat dan argumen yang telah disampaikan sebelumnya. Simpulan dapat juga disebut sebagai hasil dari pembicaraan. Karena simpulan dalam debat disusun berdasarkan pendapat dan argumen yang telah disampaikan sebelumnya, penalaran yang digunakan dalam menyusun simpulan debat termasuk dalam penalaran induktif. Ada tiga cara untuk menarik kesimpulan dengan penalaran induktif yaitu (a) generalisasi, (b) analogi, dan (c) sebab akibat.

a. Generalisasi

Penarikan kesimpulan dengan cara generalisasi berpangkal pada pernyataan-pernyataan yang bersifat khusus, fenomena-fenomena khusus kemudian ditarik pernyataan yang bersifat general  (umum).

Contoh :

Pertanyaan Khusus
  1. Bahasa Indonesia menyerap kosakata dari bahasa Arab terutama yang berkaitan dengan masalah agama, terutama agama Islam.
  2. Contoh kosakata hasil penyerapan dari bahasa Arab adalah musyawarah, hak, salat, dan taubat.
  3. Bahasa Indonesia juga menyerap kosakata dan istilah bidang teknologi dari bahasa Jepang, Jerman, Korea, dan negara lainnya.
  4. Kosakata dan istilah teknologi hasil penyerapan dari negara-negara tersebut antara lain komputer, gadget, televisi, internet, dan astronot.
  5. Tak hanya itu, bahasa Indonesia juga menyerap kata dan istilah sekaligus budaya dari negara lain.
  6. Contoh kosakata hasil penyerapan terakhir antara lain  karate, dansa, bakso, mie, dan kimono.Simpulan Bahasa Indonesia menyerap kosakata dan istilah dari bahasa asing untuk memperkaya perbendaharaan kosakata.
Simpulan

Bahasa Indonesia menyerap kosakata dan istilah dari bahasa asing untuk memperkaya perbendaharaan kosakata.

2. Analogi

Analogi merupakan proses penarikan simpulan yang didasarkan atas perbandingan dua hal yang berbeda. Akan tetapi, karena mempunyai kesamaan segi, fungsi, atau ciri, kemudian keduanya dibandingkan (disamakan). Kesamaan keduanya inilah yang menjadi dasar penarikan simpulan.

Contoh

Perbandingan 1:
Orangtua mendidik kita di rumah dengan penuh kasih sayang. Mereka mengajari kita banyak hal. Tak jarang kita dimarahi ketika kita nakal dan tidak mematuhi nasihat mereka.
Hal yang dibandingkan 2 :
Di sekolah, para guru juga mendidik kita dengan penuh kasih sayang. Guruguru mengajari kita berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan, bahkan juga memberikan teladan akhlak yang baik. Demi menanamkan kedisiplinan dan tanggung jawab, para guru pun acapkali memberi hukuman pada kita
Simpulan :
Jadi, dapat dikatakan bahwa para guru adalah orangtua kita di sekolah.

Berdasarkan contoh penarikan simpulan secara analogi di atas dapat diketahui bahwa rumusan simpulan dalam analogi adalah pembanding ^ hal yang dibandingkan ^ kesamaan kedua hal yang diperbandingkan.

3. Sebab-Akibat

Penarikan simpulan secara induktif berikutnya adalah sebab-akibat. Dalam pola penalaran ini, sebab bisa menjadi gagasan utamanya, sedangkan akibat menjadi gagasan penjelasnya. Namun, dapat juga terjadi sebaliknya. Beberapa sebab dapat  menjadi gagasan penjelas sedangkan akibat menjadi gagasan utamanya. Dalam debat, penarikan simpulan dilakukan setelah pernyataan pendapat dan argumen disampaikan lebih dulu maka pola yang kedua lebih tepat. Oleh karena itu, akibat menjadi gagasan utama, sedangkan sebab-sebabnya menjadi gagasan penjelas yang disampaikan lebih dulu.

Contoh :

Sebab-sebab :
  1. Konsep drainase saat ini dimaksudkan untuk mencegah yang diterapkan di seluruh pelosok tanah air saat ini untuk mencegah banjir.
  2. Konsep yang dipakai adalah konsep drainase konvensional, yaitu drainase “pengaturan kawasan”.
  3. Drainase konvensional adalah upaya membuang atau mengalirkan air kelebihan secepat-cepatnya ke sungai terdekat.
  4. Dalam konsep drainase konvensional, seluruh air hujan yang jatuh ke atau di suatu wilayah harus secepat-cepatnya dibuang ke sungai dan seterusnya mengalir ke laut.
  5. Orang sama sekali tidak berpikir apa yang akan terjadi di bagian hilir, jika semua air hujan dialirkan secepat-cepatnya ke sungai tanpa diupayakan agar air mempunyai waktu cukup untuk meresap ke dalam tanah.
  6. Konsep  mengalirkan air secepatnya berarti pengatusan kawasan atau menurunkan kesempatan bagi air untuk meresap ke dalam tanah

Akibat: Akibatnya, banyak terjadi kekeringan di mana-mana sebab air tidak diberi kesempatan meresap ke dalam tanah.


Referensi : 
Bahasa Indonesia : Buku siswa kelas 10/ Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.Edisi Revisi Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017.   


Post a Comment

0 Comments