Ad Code

Mendalami Puisi Bagian 2 : Menganalisis Unsur Pembangun Puisi , Manulis Puisi, dan Menyusun Ulasan dari Buku yang Dibaca

MENDALAMI PUISI

C. Menganalisis Unsur Pembangun Puisi

1. Menganalisis Diksi dalam Puisi

Dalam menulis puisi, penyair harus dengan cermat memilih kata-kata agar dapat mewakili makna yang hendak disampaikan serta dapat menimbulkan efek estetis (keindahan) yang diinginkan. Kata-kata yang dipilih penyair berdasarkan pertimbangan dari aspek makna, efek pengucapannya, serta dapat mewakili pikiran dan suasana hati penyair.

Adapun diksi muncul karena adanya makna kias, lambang, dan persamaan bunyi atau ritma. Berikut ini penjelasannya.

a) Makna Kias (konotatif)

Makna kias adalah makna yang mengandung pengandaian atau pengibaratan. Makna kias memiliki arti tidak sebenarnya atau makna konotatif.

Contoh

AKU

Karya: Chairil Anwar

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

.............................................

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih perih

.............................................

Pada larik "binatang jalang dari kumpulannya terbuang" dapat diartikan sebagai orang yang selalu bersikap memberontak dan berada di luar organisasi formal. Penyair/penulis memilih kata "binatang jalang" untuk menggambarkan bahwa "aku" diartikan sebagai orang yang tidak bisa mengikuti aturan atau norma sosial yang berlaku. Dalam kehidupan nyata, orang-orang seperti ini menjadi orang terbuang, tidak diakui keberadaannya. Oleh karena itu, penulis atau penyair memilih kata "terbuang".

2. Lambang (simbol)

Lambang atau simbol adalah sesuatu seperti gambar, tanda, ataupun kata yang menyatakan maksud tertentu. Misalnya, rantai dan padi kapas dalam gambar Garuda Pancasila, tunas kelapa sebagai lambang Pramuka. Lambang-lambang itu menyatakan arti tertentu yang bisa dipahami umum.

Dalam puisi, banyak digunakan lambang, yaitu penggantian suatu hal/benda dengan benda lain. Ada lambang yang bersifat lokal, kedaerahan, nasional, ada juga yang bersifat universal (berlaku untuk semua manusia). Misalnya, bendera adalah lambang identitas negara dan bersalaman adalah lambang persahabatan, pertemuan, atau perpisahan.

Contoh

Surat kepada Bunda tentang Calon Menantunya

Karya: W.S. Rendra

......................................

Burung dara jantan yang nakal

Yang sejak dulu kau piara

Kini terbang dan telah menemui jodohnya

Ia telah meninggalkan kandang yang kau buatkan

Dan tiada akan pulang

Buat selama-lamanya

......................................

Dalam puisi tersebut kata ‘kandang’ menjadi simbol rumah. Penyair memilih kata ‘kandang’ karena kandang merupakan simbol tempat tinggal bagi binatang piaraannya, dan di dalamnya tersedia kebutuhan pangan yang cukup bagi binatang piaraan tersebut. Sama seperti rumah orangtua yang menjadi tempat berlindung bagi anak-anak. Di dalam rumah tersebut anak-anak mendapatkan kasih sayang dan semua yang ia butuhkan.

3. Persamaan Bunyi atau Rima

Rima adalah pengulangan bunyi yang berselang, baik dalam larik sajak maupun pada akhir larik sajak. Rima merupakan salah satu unsur penting dalam puisi. Melalui rima inilah, keindahan suatu puisi tercipta. Rima tidak selalu berada di akhir baris dalam satu bait. Rima juga dapat ditemukan dalam satu baris.

Pemilihan kata di dalam sebuah baris puisi maupun dari satu baris ke baris lain mempertimbangkan kata-kata yang mempunyai persamaan bunyi yang harmonis. Perhatikan contoh berikut. 

DOA

Karya: Chairil Anwar

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut nama-Mu

Biar susah sungguh

Mengingat kau penuh seluruh

..............................................

Tuhanku

Aku hilang remuk bentuk

Remuk

..............................................

Dalam puisi di atas, Chairil Anwar dengan cermat memilih kata-kata yang secara bunyi menghasilkan persamaan bunyi. Persamaan bunyi itu membuat puisi tersebut semakin indah ketika dibacakan. 

Berdasarkan jenis-jenis rima, pertama dapat dilihat secara vertikal (persamaan bunyi pada akhir baris dalam satu bait).


Rima akhir, yaitu persamaan bunyi pada akhir baris. Berdasarkan jenisnya rima akhir dapat dibagi menjadi lima, yaitu

a. Rima sejajar berpola : a-a-a-a

b. Rima kembar berpola : a-a-b-b

c. Rima berpeluk berpola : a-b-b-a

d. Rima bersilang berpola : a-b-a-b

e. Rima patah berpola : a-a-a-b/a-b-a-a/a-a-b-a

Kedua dapat dilihat secara horizontal (persamaan bunyi pada setiap kata dalam satu baris) atau biasa disebut dengan Rima datar, yaitu persamaan bunyi pada tiap-tiap larik sajak.

Berikut merupakan rima datar, yaitu sebagai berikut.

a. Aliterasi yaitu persamaan bunyi konsonan pada setiap kata dalam satu baris

b. Asonansi yaitu persamaan vokal pada akhir kata dalam satu baris.

2. Menjelaskan Imaji dalam Puisi

Pengimajian adalah kata atau susunan yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Terdapat hubungan erat antara diksi, pengimajian, dan kata konkret. Diksi yang dipilih harus menghasilkan pengimajian sehingga menjadi kata konkret, seperti kita hayati melalui penglihatan, pendengaran, atau cita rasa.

Berikut jenis-jenis imaji dalam puisi

1. Imaji visual (pengimajian dengan menggunakan kata-kata  yang menggambarkan seolah-olah objek yang dicitrakan dapat dilihat).

Contoh

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil

Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka

Tengadah padaku, pada bulan merah jambu

Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa


Pada penggalan puisi Gadis Peminta - Minta karya Toto S. Bachtiar, seolah - olah penyair betul - betul melihat dengan jelas senyum dari gadis kecil itu.

2. Imaji auditif (pengimajian dengan menggunakan kata-kata ungkapan seolah-olah objek yang dicitrakan sungguh-sungguh didengar oleh pembaca

Contoh

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun
karena angin pada kemuning.

Ia dengar resah kuda serta langkah pedati
Ketika langit bersih menampakkan bima sakti

Pada penggalan puisi Asmaradana karya Goenawan Mohamad, seolah - olah penyair betul - betul menggiring pembaca mendengar resahan kuda dan langkah pedata dengan nyata.

3. Imaji taktil (pengimajian dengan menggunakan kata-kata yang mampu mempengaruhi perasaan pembaca sehingga ikut terpengaruh perasaannya).

Contoh 

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku
Menggigit juga ruang di mana dia yang kuingin,
Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
Di karet, di karet (daerahku yang akan datang)
sampai juga deru dingin
Aku berbenah dalam kamar,
dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
Tubuhku diam dan sendiri,
cerita dan peristiwa berlalu beku

Pada penggalan puisi Yang Terampas dan yang Putus karya Chairil Anwar , seolah - olah penyair betul - betul mampu mempengaruhi perasaan pembaca sehingga ikut terpengaruh perasaannya.

3. Mengidentifikasi Kata Konkret dalam Puisi

Kata konkret adalah kata yang memungkinkan munculnya imaji karena dapat ditangkap indra. Ini berkaitan dengan kemampuan wujud fisik objek yang dimaksud dalam kata itu untuk membangkitkan imajinasi pembaca. Contoh kata ‘salju’ yang berwarna putih dan rasanya dingin bisa digunakan untuk menyampaikan makna kias tentang kesucian, kehampaan, dan rasa dingin.

Dari konsep makna yang terdapat dalam kata salju tersebut, penyair bisa memilih kata salju untuk menggambarkan, misalnya, rasa rindu. Rasa rindu hanya tumbuh pada seseorang yang cintanya suci, tetapi menimbulkan kesedihan di hati yang mengalaminya. Contoh lainnya adalah kata ‘rawa-rawa’ yang melambangkan tempat hidup, bumi, dan kehidupan yang kotor.

Dengan kata konkret, pembaca dapat membayangkan secara jelas peristiwa atau keadaan yang dilukiskan oleh penyair. Pengonkretan kata ini berhubungan erat dengan pengimajian, pelambangan, dan pengiasan. Ketiga hal itu juga memanfaatkan gaya bahasa untuk memperjelas apa yang ingin dikemukakan.

Contoh

Dengan kuku-kuku besi, kuda menebah perut bumi
Bulan berkhianat, gosokkan tubuhnya pada pucuk-pucuk para
Mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang diburu
Surai bau keringat basah, jenawipun telanjang

Kata-kata konkret pada puisi Balada Terbunuhnya Atmo Karpo karya W.S. Rendra di atas di antaranya kuku besi diartikan sebagai kaki kuda; kulit bumi diartikan sebagai jalan yang tidak teraspal; Penunggang perampok yang diburu diartikan sebagai Atmo Karpo (seorang perampok yang menunggang kuda); Surai bau keringat basah diartikan sebagai perjalanan yang sangat melelahkan; jenawi diartikan sebagai samurai; pun telanjang diartikan sebagai keadaan siap berperang.

4. Menjelaskan Rima/Ritme dalam Puisi

Rima (persajakan) adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait. Sementara itu, irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi. Timbulnya irama disebabkan oleh perulangan bunyi secara berturut-turut dan bervariasi (misalnya karena adanya rima, perulangan kata, perulangan bait), tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemahnya (karena sifatsifat konsonan dan vokal), atau panjang pendek kata.

Dengan kata lain, rima adalah salah satu unsur pembentuk irama, namun irama tidak hanya dibentuk oleh rima. Baik rima maupun irama dapat menciptakan efek musikalisasi pada puisi, membuat puisi menjadi indah, dan enak didengar meskipun tanpa dilagukan. 

Berdasarkan jenis bunyi yang diulang, ada 8 jenis rima, yaitu sebagai berikut.
  1. Rima sempurna, yaitu persamaan bunyi pada suku-suku kata terakhir.
  2. Rima tak sempurna, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada sebagian suku kata terakhir.
  3. Rima mutlak, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada dua kata atau lebih secara mutlak (suku kata sebunyi).
  4. Rima terbuka, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku akhir terbuka atau dengan vokal sama.
  5. Rima tertutup, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku kata tertutup (konsonan).
  6. Rima aliterasi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bunyi awal kata pada baris yang sama atau baris yang berlainan.
  7. Rima asonansi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada asonansi vokal tengah kata.
  8. Rima disonansi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada hurufhuruf mati/konsonan.

D. Menulis Puisi

1. Menulis Puisi untuk Mengungkapkan Perasaan

Salah satu sumber ide untuk menulis puisi  yang paling mudah didapatkan adalah berdasarkan pengalaman pribadi. Pengalaman merupakan segala sesuatu yang pernah dibaca, didengar, dilihat, dirasakan, atau dialami. Misalnya, ketika muncul ide atau gagasan yang kuat berupa hubungan antara penyair dan Tuhan, maka puisinya akan bertema ketuhanan. Begitu pula ketika muncul ide atau gagasan yang berkaitan dengan persoalan sosial, maka puisinya akan bertema kritik sosial.

Contoh

dalam dirimu mengalir
sungai panjang
darah namanya
dalam diriku menggenang
telaga darah
sukma namanya 
dalam diriku meriak
gelombang suara
hidup namanya
dan karena hidup itu indah
aku menangis sepuas-puasnya.  

Puisi Dalam Diriku Karya Sapardi Djoko Damono tersebut merupakan puisi yang ditulis berdasarkan pengalaman batin penyairnya, bukan merupakan reaksi penyair terhadap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Sapardi ingin mengungkapkan perasaannya dan  pemahamannya tentang hakikat dirinya, serta bagaimana dia menjalani kehidupannya.
Bandingkan juga dengan puisi hasil perenungan batin berikut ini.

E. Menyusun Ulasan dari Buku yang Dibaca
  1. Ulasan selalu ditujukan pada isi buku bukan pada pandangan sendiri sehingga dalam memberikan ulasan harus dibantu oleh kerangka isi buku.
  2. Berikanlah ulasan pada setiap bagian penting isi buku secara proporsional.
  3. Kemukakanlah ulasan minimal satu paragraf singkat pada setiap bagian buku (fiksi) atau setiap bab buku nonfiksi (buku pengayaan) yang dianggap menarik.
  4. Pada bagian akhir, sampaikanlah kesan kamu setelah membaca buku
  5. tersebut.

Materi Terkait

Referensi 

Bahasa Indonesia : Buku siswa kelas 10/ Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.Edisi Revisi Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017.

Kosasih, E. 2014. Jenis-jenis Teks dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia  SMA/MA/ SMK. Jakarta: Yrama Widya.

Pusat Bahasa (sekarang Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa). 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga. Jakarta: Pusat Bahasa.

Rakhmat, J. 1999. Retorika Modern: Pendekatan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Setiyaningsih, Ika.2014. Ensiklopedia Bahasa dan Sastra Indonesia: Terampil Berbicara. Klaten: Intan Pariwara.


Post a Comment

0 Comments