Ad Code

MENYUSUN LAPORAN HASIL OBSERVASI

MENYUSUN LAPORAN HASIL OBSERVASI

Teks laopran hasil observasi tergolong ke dalam jenis teks fakrual. Teks Observasi bertujuan memaparkan informasi atau fakta –fakta menegena suatu objek tertentu.

A.  Pengertian, Ciri, fungsi dan Informasi dalam teks laporan hasil observasi

a)  Pengertian adalah teks yang berisi penjabaran umum atau melaporkan sesuatu berupa hasil dari pengamatan (observasi). Teks laporan observasi juga disebut teks klasifikasi karena memuat klasifikasi mengenai jenis-jenis sesuatu berdasarkan kriteria tertentu.

b)  Ciri – Ciri Teks Laopran Hasil Observasi

  1. Menyajikan fakta-fakta tentang keadaan peristiwa, tempat, benda, atau orang.
  2. Menambah pengetahuan dan wawasan kepada pembaca

 b)  Fugsi Teks Laporan Hasil Observasi

    1. Melaporkan tanggung jawab sebuah tugas dan kegiatan pengamatan;
    2. Menjelaskan dasar penyusunan kebijaksanaan, keputusan dan/atau pemecahan masalah dalam pengamatan;
    3. Sarana untuk pendokumentasian;
    4. Sebagai sumber informasi terpercaya.

 B.  Menginterpretasi Laporan Hasil Observasi

Sebuah laporan hasil observasi dapat disajikan dalam bentuk teks tertulis maupun teks lisan. Dalam menginterpretasi laporan hasil observasi ada tiga tahap dalam menginterpretasi teks LHO.

    1. Memahami teks laporan hasil observasi dengan seksama;
    2. Mencatat fakta-fakta;
    3. Membuat kesimpulan isi

Pokok-pokok isi sebuah teks dapat ditemukan dengan menemukan kalimat utamanya. Kalimat utama adalah kalimat yang di dalamnya memiliki pokok pikiran atau gagasan utama yang menjadi dasar pengembangan sebuah paragraf. Gagasan utama  bersifat umum dan dapat melingkupi semua isi yang ada dalam sebuah paragraf.

Di bawah ini contoh analisis gagasan pokok paragraf dalam teks Wayang.

A.  Merevisi Laporan Hasil Observasi

Setiap teks pasti memiliki struktur dan unsur pembangun. Demikian pula dengan teks laporan hasil observasi. Struktur teks laporan hasil observasi dapat disajikan secara popular dan ilmiah. Laporan hasil observasi pada umumnya disajikan dalam bentuk karya tulis atau yang lazin disebut dengan makalah. Makalah biasanya disusun untuk diskusi-diskusi resmi seperti symposium, seminar, atau lokakarya. Makalah juga dapat disebut paper , yakni tugas tertulis pada suatu mata pelajaran yang penyusunannya bias berupa hasil kajian hasil observasi dilapangan.

Makalah disajikan dalam bagian-bagian berikut :

(1)  Pendahuluan;

(2)  Pembahasan;

(3)  Kesimpulan.

(a)  Struktur Teks Laporan Hasil Observasi

Setiap teks pasti memiliki struktur dan unsur pembangun. Demikian pula dengan teks laporan hasil observasi.

Berikut struktur teks laporan hasil observasi.

  1. Definisi Umum, menjelaskan objek yang diobservasi, baik itu tentang karakteristik, keberadaan, kebiasaan, pengelompokan, dan berbagai aspek lainnya;
  2. Deskripsi bagian, menjelaskan aspek – aspek tertentu dari objek yang diobservasi atau Deskripsi bagian yang baik disajikan mengikuti urutan dalam pengklasifikasian. Perhatikan paragraf-paragraf yang merupakan deskripsi;
  3. bagian secara berurutan;
  4. Deskripsi manfaat, menjelakan kegunan dari paparan tema yang dinyatakan sebelumnya.

 A.  Menganalisis Kebahasaan Teks Laporan Hasil Observasi

Setiap teks memiliki unsur kebahasaan yang berbeda-beda, demikian pula dengan teks laporan hasil observasi. Untuk mengetahui unsur kebahasaan dalam teks laporan hasil observasi.

Adapun kaidah teks laporan hasil observasi berdasarkan kebahasaanya adalah sebagai berikut.

a)    Banyak mengunakan kata benda atau peritiwa umum sebagai objek utama pemaparannya. Seperti Gunung, Wayang, Sungai, keadaan penduduk, peritiwa banjir, bencana alam, dan peristiwa budaya;

b)    Banyak mengunakan kata kerja material atau kata kerja yang menunjukan tindakan suatu benda, binatang, manusia, dan peristiwa. Seperti : Melumpuhkan, membatasi, memakan, mengeluarkan, memberikan, menunjukan, turun tangan dll.

c)    Banyak mengunakan kopula, yaitu kata adalah, merupakan, yaitu. Kata – kata tersebut digunakan dalam menjelaskan pengertian atau konsep.

d)    Banyak mengunakan kata yang menyatakan pengelompokan, perbedaan, atau persamaan, seperti : diklasifikasikan, dibedakan, digolongkan.

e)    Banyak mengunakan kata yang menggambarkan sifat benda, orang, atau suatu keadaan, seperti : berkumpul, melakukan pawai, terbagi, memainkan, berbaris, berbentuk.

f)     Banyak mengunakan kata – kata teknis (istilah ilmiah) berkaitan dengan tema (isi) teks. Seperti : vertebrata, invetrebrata;

g)    Banyak kata yang melepaskan kata yang mengatasnamakan penulis bersifat impresional (tidak bersifat pribadi). Seperti kata Saya, kami, penulis, dan peneliti.

Adapaun pengunaan kebahasaan yang lainya teks laporan hasil observasi terdapat pengunaan afiksasi (kata penghubung), kalimat definisi, dan kalimat deskripsi.

a.   Afiksasi

     Dalam kegiatan berbahasa, kata yang digunakan dapat berupa kata dasar atau kata bentukan. Kata dasar adalah kata yang belum mendapat imbuhan, pemajemukan, atau pengulangan. Kata bentukan adalah kata yang telah mendapat imbuhan (afiksasi), pengulangan (reduplikasi), dan pemajemukan ketika digunakan.  Kata yang mendapat proses pengimbuhan dapat berubah jenis. Misalnya, kata berjenis verba dapat berubah menjadi nomina jika mendapat imbuhan. Contoh, kata “minum” (verba) mendapat imbuhan “– an” menjadi “minuman” (nomina). Suatu kata dasar dapat berubah menjadi verba jika mendapat imbuhan me(N)-, be(R)-, di-, bahkan terkadang ter- atau ke-an. Sementara itu, kata dasar yang sama dapat berubah menjadi nomina jika diberi imbuhan pe(N)-, pe(R)-, -an, atau terkadang ke-an. 

a.   Kalimat definisi dan kalimat deskripsi

1)    Kalimat definisi merupakan suatu kalimat yang memberikan penjelasan umum tentang suatu benda hal aktivitas dan lain-lain. Kalimat definisi sering digunakan dalam teks laporan dan merujuk pada sebuha istilah teknis atau ilmiah tertentu.

Contoh : Wayang adalah seni pertunjukan yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya asli Indonesia.

2)  Kalimat deskripsi ialah kalimat yang menggambarkan sifat-sifat atau ciri-ciri khusus dari suatu benda. Sifat-sifat tersebut merujuk pada hal khusus yang bisa ditangkap oleh panca indera misalnya berupa ukuran seperti besar kecil, tinggi rendah. Warna seperti merah, kuning, biru. Rasa seperti manis, pahit, getir, halus, kasar dan sebagainya.

Contoh : Wayang ini terbuat dari kulit kerbau yang ditatah, dan diberi warna sesuai dengan kaidah pulasan wayang pendalangan, diberi tangkai dari bahan tanduk kerbau bule yang diolah sedemikian rupa dengan nama cempurit yang terdiri atas tuding dan gapit.

b.   Kalimat simplek dan kompleks

Kalimat dalam sebuah teks dapat dibentuk hanya oleh satu klausa, yaitu bagian kalimat yang memiliki subjek dan predikat (predikatif). Kalimat yang hanya memiliki satu klausa disebut sebagai kalimat simpleks atau biasa disebut pula sebagai kalimat tunggal. Maka dapat disimpulkan kalimat simpleks kalimat yang hanya terdiri dari satu subjek dan satu predikat

Berikut adalah contoh kalimat simpleks

Kalimat kompleks

Kalimat kompleks atau kalimat majemuk adalah kalimat yang memiliki dua atau lebih klausa. Kalimat kompleks dibagi menjadi dua macam, yaitu kalimat kompleks atau majemuk setara dan kalimat kompleks atau majemuk bertingkat. Kalimat majemuk setara memiliki dua klausa yang setara dalam suatu kalimat, sedangkan kalimat majemuk bertingkat memiliki klausa ganda yang tidak sama atau berada di bawah fungsi utama suatu kalimat. Fungsi-fungsi utama dalam dalam kalimat majemuk setara membentuk induk kalimat atau klausa atasan. Fungsi-fungsi yang membentuk tingkat, yaitu yang mengikuti konjungsi subordinatif disebut klausa bawahan atau anak kalimat. Kalimat majemuk setara biasanya ditandai dengan penggunaan konjungsi koordinatif (setara), sedangkan kalimat majemuk bertingkat biasanya ditandai dengan penggunaan konjungsi subordinatif (bertingkat). 

     

Referensi :

Bahasa Indonesia : Buku siswa kelas 10/ Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.Edisi Revisi Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017.

Kosasih, E. 2014. Jenis - Jenis Teks. Bandung : Yrama Widya

Rastuti, M.G Hesti Puji. 2009. Ragam Kata Bahasa Indonesia. Surabaya : PT JePe Prese Media Utama


Post a Comment

0 Comments